Tuesday, August 08, 2006

 

INDONESIA INTERNATIONAL PERFORMANCE ART EVENT [IIPAE] 2006

Birds Migration

Performance art di Indonesia masih saja tergolong baru. Terlepas dari berbagai sikap pro dan kontra di masyarakat, bahkan dalam publik seni, genre ini tampaknya malah semakin hidup dan berkembang, meski sporadis. Beberapa orang dan kelompok sangat serius dalam memproses setiap perkembangannya, baik dalam pengamatan (riset) mau pun dalam penggalangan penyelenggaraan dan pengembangan wacana. Beberapa individual bahkan telah mendapat tempat di berbagai forum internasional.

Meski begitu, dari observasi* yang pernah dilakukan telah diketemukan adanya kesenjangan wacana dasar dalam performance art. Tak hanya publik, bahkan dalam publik seni dan komunitas performance art, ditemukan data yang menggambarkan bahwa wacana studi tentang sejarah performance art pun tak juga menjadi kesetaraan dalam berpengetahuan. Kesenjangan ini semakin membuat kondisi ‘just do it’ ketimbang ‘think first’. Maka yang terjadi adalah stagnasi dalam prosesnya. Konsep-konsep yang dihadirkan memiliki selaput tipis argumentasi, karena lebih mengandalkan impulsi ketimbang rangkaian despkripsi rasionalisasi, dan bahkan menolak sama sekali kritik. Hal ini mempengaruhi pula kekayaan bentuk performance. Sehingga beberapa performer menyatakan diri berhenti karena ‘tak ada sesuatu’ yang ‘baru’.
* http://observeperformanceart.blogspot.com

Suka atau tidak, faham atau tidak, keberadaan genre ini adalah sebuah realita dan patut mendapatkan wadah tersendiri sebagai kajian ilmu, tidak bisa tidak.

Ibarat migrasi para burung [Birds Migration]. Tak akan bisa dibendung. Metaphora ini melukiskan ribuan hingga jutaan burung selalu berpindah tempat dari satu benua ke benua lain, berkembang biak, berasimilasi, menciptakan spesies baru berdasarkan alam benua masing-masing atau tetap tak bergeming mempertahankan orisinalitasnya, bahkan epidemik yang menimbulkan kematian dalam area hitam flu burung (avian flu). Tak bisa dicegah.

Meski begitu, sebagaimana migrasi para burung yang selalu menggulirkan ekosistem berjalan sebagaimana hukum alam, beriring bersama angin, melayang terbang tinggi di angkasa luas, sayap-sayap berkepak dan terbentang lebar, mengarungi kawasan-kawasan baru, menyemai benih dan kehidupan lainnya, bulir-bulir biji-bijian, padi, gandum, bunga, mematuk putik-putik bunga hingga makin bersemai dan bakal buah ranum bermunculan, pohon yang semakin rindang, hewan-hewan lainnya terlindung serta mendapatkan makanannya, tak akan pernah berkesudahan dalam menuju harmoni, meski selalu gelisah dalam setiap kemapanan, selalu bergerak dari setiap halte kehidupan ke halte lainnya, membentuk jaringan-jaringan dan oase baru.

Birds Migration : Indonesia International Performance Art Event [ IIPAE ] 2006 ini bermaksud meng-analogi-kan diri sebagaimana deskripsi di atas. Acara ini adalah serangkaian semangat yang sama dari berbagai acara lainnya bertajuk ‘Bird Migration” yang berlangsung di berbagai tempat lainnya. Spirit utamanya adalah menggalang networking antar aktivisnya dengan berbagai events dan program, berdasarkan kesadaran yang sama atas pentingnya studi sejarah beredarnya performance art sebagai sebuah genre yang melibatkan kepedulian para pelakunya dan berbagai pesan demi penyadaran atas berbagai situasi politik, sosial, individual, kultural dan sebagainya, yang tentunya membutuhkan pemahaman dan strategi-strategi baru dalam menghadapi berbagai bentuk ‘kekinian’, hingga menciptakannya dalam kreasi-kreasi ‘terkini’.

Acara ini diharapkan dapat memenuhi berbagai aspirasi dari berbagai pihak, setidak-tidaknya dalam hal pengetahuan. Maka Galeri Nasional Indonesia, selaku institusi seni nasional di ruang seni rupa, bersama AppreRoom* selaku penggarap konsep dan pelaksana program, serta dukungan dari berbagai institusi, a.l.: Goethe Institut Jakarta, Kedutaan Belanda [Royal of Netherlands Embassy], Kedutaan Polandia dsb. berikut partisipan sebanyak 52 orang dari berbagai negara [15 negara] diharapkan acara ini menjadi support besar dalam dunia seni dan sains, tak hanya bagi Indonesia, namun juga dunia. [SS Listyowati]

* http://appreroom.blogspot.com

------------------------------------------------------------------------------------------------

Materi Program: Seminar, Artist Talk, Workshop, Eksibisi dan Performance

Durasi: 7 - 9 Desember 2006





Susunan Program:
Kamis, 7/12 – Seminar 1, Workshop, Performance & Eksibisi
Jum’at, 8/12Artist Talk, Performance & Eksibisi
Sabtu, 9/12 – Seminar 2, Performance & Eksibisi

Tema: Sejarah & Kini

Peserta:
Performer/ kritikus seni/ periset/ observer/ organizer dari Indonesia dan internasional

Venue: Galeri Nasional INDONESIA
Jl. Medan Merdeka Timur 14
Jakarta 10110 - INDONESIA
T. [021] 34833954/ 34833955/ 3813021
F. [021] 3813021
E. galnas@indosat.net.id
H. www.galeri-nasional.or.id
---


Seminar

Seminar 1
Kamis, 7 Desember 2006 [Pk. 09.00 – 12.45]

Tema:“Birds Migration: A Study in History of Performance Art and Its Management

Moderator: Heru Hikayat

Pembicara : S S Listyowati [Indonesia], Ari Suryadi Nata [Indonesia] dan Nani Kahar [Malaysia]

Latar Belakang :
Seperti migrasi para burung dari satu tempat ke tempat lain, dari satu benua ke benua lain, performance art meski kelahirannya di benua belahan Barat, namun keberadaannya bagai mengudara, menembus batas ruang negara, bangsa, ras dan keyakinan hingga ke timur dan Asia, yang perlu disikapi sedemikian rupa agar tetap memberi kehidupan, kesegaran dan kelahiran-kelahiran baru, kolaborasi baru, bentuk-bentuk baru, performa baru, bukan wabah baru, apalagi kematian.
Peristiwa kelahirannya mengukir sejarah tersendiri yang membuat genre ini masuk dalam kawasan seni dengan karakternya yang sangat unik dan menjadikannya begitu special sekaligus kontroversial. Di masing-masing tempat [negara, bangsa] memiliki sejarah keberadaannya sendiri, yang melibatkan banyak situasi dan kondisi kausalitas, baik, politik, sosial, ekonomi, kultural dan sebagainya di setiap jamannya. Hal ini membuat genre ini makin menarik untuk ditelaah selain jajaran bentuk kesenian lainnya di setiap masa dan keberadaannya hingga kini dalam sejarah.
Performance art melibatkan berbagai aspek manajerial seni. Aspek-aspek ini meliputi antara lain dalam (1) manajemen institusi dan events, berkaitan dengan kemampuan berorganisasi dan hubungan dengan pemerintah (2) manajemen wawasan, berkaitan dengan luas pengetahuan dan pembinaan wacana, serta (3) manajemen diri, berkaitan dengan pelatihan fokus pikiran, pengasahan hati nurani, penggodogan mental dan fisik dalam menentukan, mempersiapkan dan melakukan performance serta kemampuan menghadapi berbagai resiko setelahnya.
Sebagaimana halnya para burung yang tengah bermigrasi, mampukah performance art bersama para pelakunya baik komunal mau pun individual tetap terus mampu mengepakkan sayapnya hingga selebar mungkin mengarungi angkasa luas menembus berbagai batas? [SSL]


Seminar 2
Sabtu, 9 Desember 2006 [Pk. 09.00 – 12.00]

Tema : “Performativity

Pembicara: Heru Hikayat [Indonesia], Zane Trow [Australia] dan Ray Langenbach [AS]

Latar Belakang :
Performance art merupakan genre seni yang menempatkan dirinya pada irisan. Ia punya latar dari berbagai disiplin seni yang sudah ada, sambil selalu menghindar dari berbagai konvensi atau kategori yang sudah mapan. Dengan begitu ia berada dalam barisan seni-seni avant-garde (garda depan).
Ada istilah lain menyangkut pembaharuan dalam seni: kontemporer. Dalam dunia seni, istilah kontemporer tidak sekedar merujuk pada makna literer, yaitu kekinian. Kontemporer lebih merujuk pada prinsip-prinsip tertentu yang mengkritik, memperluas, atau bahkan menihilkan prinsip-prinsip yang sudah ada sebelumnya. Performance art juga bersesuaian dengan pengertian ini.
Membicarakan performance art adalah membicarakan semangat pembaharuan dalam seni. Satu semangat yang bisa membuat pemirsa tertantang berpetualang. Sebuah petualangan apresiasi. Seperti halnya setiap seniman, selalu melakukan petualangan setiap kali berkarya.
Performance art mempunyai kredo “seni yang dihadirkan langsung oleh senimannya”. Performance art lebih merupakan peristiwa daripada materi. Dengan begitu, presentasi langsung merupakan karakter dasarnya. Karya yang sebenarnya adalah peristiwa yang hanya terjadi sekali, pada saat itu saja. Sebuah karya performance memang bisa dipresentasikan berkali-kali. Namun setiap presentasi selalu terikat pada ruang-waktu spesifik. Hingga presentasi kedua, ketiga, dst. merupakan karya yang tidak lagi sama, karena ruang-waktunya berbeda. Konteks sangatlah vital membentuk karya performance. Di sisi lain, bagaimana mungkin sebuah peristiwa bisa tersebar luas jika tidak didokumentasikan? Bahkan seluruh bangunan seni modern di Indonesia dimulai dari bacaan terhadap dokumen-dokumen seni. Pengetahuan tentang performance art pun didapat dari buku-buku dan kajian terhadap dokumen-dokumen. Pendek kata, sejarahlah yang menjamin eksistensi.
Ini era teknologi reproduksi. Tampaknya segala hal didokumentasi, digandakan, dan bisa disebar-luaskan. Dari mulai hal-hal monumental: pelantikan presiden, sidang DPR, pengadilan, wisuda, pernikahan, kelahiran, kematian, dll; hingga hal-hal elementer: rambut panjang, baju baru, kabel, gorden, daun jendela warna hijau, dll. Menyangkut seni, semua hal bisa dianggap penting dan karenanya harus direkam dengan baik.
Performance art, karena berupa peristiwa, maka satu-satunya cara agar ia bisa diakses di masa datang adalah melalui dokumentasi. Karya performance yang baik adalah karya yang berhasil memukau publik. Publik berhasil dipersuasi untuk mengamati tiap rinci. Sebaliknya, publik akan menuntut keunikan peristiwa yang membuatnya mau memperhatikan karya performance rinci demi rinci. [HH]

Artist Talk
Kamis, 7 Desember 2006
Presentasi video dsb.
bersama Lee Wen [Singapura]

Workshop
Jum'at, 8 Desember 2006
bersama Tang Da Wu [Singapura]
Tema : “Tradisi dan Modernitas dalam Performance Art

Eksibisi [Screening]
7-9 Desember 2006, pk 9am-9pm
Pameran Instalasi Seni Foto & Video Performance Art

Tema : “Performativity: Ruang Migrasi Para Performer

Peserta: Teguh Ostenrik, Krisna Murti, Deden Sambas, Melati Suryodarmo, Iswanto GH, Rewind Art, Performance Art Jakarta Collectivo – Jakarta 32°C, B+PAC [Bandung Performance Art Community], Tiarma D Sirait, Khairuddin Hori, Rebecca Conro dll.



Performance
@ 15-30 menit atau tentative, dilakukan parallel di ruang yang berbeda
Tempat: area GalNas




Kamis, 7 Desember 2006
09.30 - 09.45
20.00 – selesai

Jum’at, 8 Desember 2006
14.00 - 17.00
20.00 – selesai

Sabtu, 9 Desember 2006
14.00 – 17.30
20.00 - selesai

Performer:
Angga Wedhaswara [Indonesia], ‘Ade’ Asep Deni [Indonesia], Mukmin Soge Ahmad [Indonesia], Ilham J. Baday [Indonesia], Prilla Tania [Indonesia], S S Listyowati [Indonesia], Yoyoyogasmana [Indonesia], Yustoni Volunteero [Indonesia], Saiful Razman [Malaysia], Razif [Malaysia], Rahmat Haron [Malaysia], Juliana Yasin [Singapura], Agnes Yit [Singapura], Rizman Putra [Singapura], Lina Adam [Singapura], Jeremy Hiah [Singapura], Hong O-bong [Korea], Arai Sin-Ichi [Jepang], Ray Langenbach [USA], Jacques van Poppel [Belanda], Nezaket Ekici [Jerman/ Turki], Inari Virmakoski [Finlandia], Roi Vaara [Finlandia], Zane Trow [Australia], Jennifer Nelson [Yunani], Angie Seah [Singapura], Sophia Natasha Wei [Singapura], Cheng Guang Feng [Cina], Jane Jin Kaisen [Denmark], Emily White [USA], Peter Grzybowski [Polandia], Arief Dharmawan [Indonesia], Santo Klingon [Indonesia]
























Venue:
Galeri Nasional INDONESIA
Jl. Medan Merdeka Timur 14
Jakarta 10110 - INDONESIA
T. [021] 34833954/ 34833955/ 3813021
F. [021] 3813021
E. galnas@indosat.net.id
H. www.galeri-nasional.or.id






Agenda

Thursday, 7 December 2006
[Galeri Nasional Indonesia]
09.00 : Exhibition Opening
10.00 – 12.45 : Seminar 1
15.00 – 18.00 : Workshop
20.00 – on wards : Performance Art


Friday, 8 December 2006
[Galeri Nasional Indonesia]
09.00 – 12.00 : Workshop
14.00 - 17.00 : Performance Art
20.00 – onwards : Performance Art


Saturday, 9 Desember 2006
[Galeri Nasional Indonesia]
09.00 – 12.00 : Seminar 2
14.00 – 17.00 : Performance Art
20.00 – onwards : Performance Art
24.00 :Closing

Comments: Post a Comment



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?